Seni Ronggeng di Pangandaran tengah bersalin rupa. Dulu dianggap medium magis pemanggil hujan dan kesuburan, kini ia beradaptasi dengan kendang kliningan dan irama dangdut demi bertahan di tengah zaman.
Di Kabupaten Pangandaran, Ronggeng bukan sekadar hiburan. Ia adalah nafas tradisi yang tetap hidup karena denyut dukungan masyarakatnya. Namun, jangan bayangkan Ronggeng hanya satu warna. Di wilayah ini, setidaknya dikenal tiga varian: Ronggeng Gunung yang purba, Ronggeng Kaler yang berkembang untuk hajatan, serta Ronggeng Amen—atau Ronggeng Kidul—yang kini merajai panggung-panggung rakyat.
Mitos dan Dendam Sang Putri
Menelusuri asal-usul Ronggeng Gunung seperti memasuki labirin mitos. Meski bukti historisnya masih remang-remang, ingatan kolektif masyarakat selalu bermuara pada satu nama: Dewi Samboja.
Satu versi populer menyebutkan tari ini adalah alat balas dendam sang putri atas kematian suaminya, Anggalarang, yang tewas di tangan perompak Kalasamudra. Samboja menyamar menjadi ronggeng, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, hingga akhirnya berhasil menghabisi sang bajak laut saat menari bersama. Kepedihan sang putri itulah yang diyakini menjadi dasar gerakan Ronggeng Gunung yang lirih dan melankolis.
Tak heran jika lagu-lagu pengiringnya seperti Kudup Turi atau Manangis memiliki nada yang menyayat, menggambarkan duka ditinggal kekasih.
Pergeseran dari Langit ke Bumi
Dulu, Ronggeng adalah urusan “langit”. Sebelum abad ke-18, penarinya dianggap sebagai shaman (dukun) yang memiliki daya magis. Kehadiran mereka dalam ritual tandur (menanam padi) atau mapag sri diyakini mampu memancing kesuburan tanah dan keamanan warga. Sesaji dan asap dupa adalah pemandangan wajib di depan panggung.
”Pada awalnya, kesenian ini menunjukkan sifat sakral karena terkait kepercayaan samanisme,” tulis Nina Herlina Lubis dan Undang Ahmad Darsa dalam penelitiannya. Namun kini, sakralitas itu bergeser menjadi profan. Ronggeng tak lagi hanya hadir di sawah-sawah saat panen, tapi juga di pesta pernikahan, khitanan, hingga acara kantor pemerintahan.
Ronggeng Amen: Antara Estetika dan Saweran
Jika Ronggeng Gunung adalah versi “pakem” dengan musik sederhana—kendang, tiga ketuk, dan satu goong—maka Ronggeng Amen adalah versi “pop” yang lebih luwes. Di sini, penonton tak hanya menonton, tapi “dikepung” untuk ikut menari.
Daya tarik utamanya adalah interaksi. Penonton yang dikalungi selendang (sampur) bebas ngengklak sesuka hati. Di masa lalu, ada noda yang menempel: uang saweran sering diselipkan ke dada penari, yang membuat citra ronggeng sempat merosot menjadi serupa pelacur.
Namun, modernisasi membawa adab baru. “Unsur negatif perlahan dihapus atau diubah agar tidak melanggar norma sosial,” jelas hasil penelitian tersebut. Kini, uang sawer diselipkan dengan sopan di antara jari penari atau dimasukkan ke dalam amplop.
Bertahan di Tengah Modernitas
Pemerintah Kabupaten Pangandaran bukannya diam melihat seni ini tergerus zaman. Melalui revitalisasi dan pembinaan kelompok seni—yang kini berjumlah sekitar 17 lingkung seni untuk Ronggeng Amen saja—upaya pelestarian terus digenjot.
Kini, busana penari lebih tren di mata anak muda, dan musiknya terkadang bercampur irama dangdut yang sedang hit. Ronggeng mungkin telah kehilangan jubah mistisnya, namun di panggung-panggung rakyat Pangandaran, ia menemukan nafas baru sebagai simbol kegembiraan kolektif yang tak lekang oleh waktu.






Tinggalkan Balasan