PANGANDARAN – Malam merambat naik saat suara gamelan, kendang, dan goong mulai membelah kesunyian di pesisir Pangandaran. Di bawah temaram lampu panggung, denting kecapi menyusup di sela-sela riuh rendah penonton. Enam pria berbaju hitam dengan sarung melilit pinggang melangkah pasti, menari seirama dalam lingkaran yang magis. Tak lama, empat perempuan berkebaya merah masuk ke gelanggang, mempercantik koreografi yang kian dinamis.
Inilah Ronggeng Amen, sebuah manifestasi seni pertunjukan yang kini tengah naik daun di Kabupaten Pangandaran. Jika Ronggeng Gunung—moyangnya—dikenal lebih sakral dan eksklusif, Ronggeng Amen adalah wajah kontemporer yang lebih megah dan terbuka bagi publik luas.
Budayawan Pangandaran, Rangga Rineka Pawa, atau yang akrab disapa Abah Dalang, menjelaskan bahwa kesenian ini tidak lahir dari ruang kosong. Akarnya menghujam kuat pada tradisi Ronggeng Gunung yang bersumber dari cerita rakyat Babad Pananjung ‘Ngadeg Tumenggung’.
”Ronggeng Gunung dimodifikasi oleh para seniman dan budayawan, diperkaya dengan instrumen musik atau waditra yang lebih lengkap, hingga lahirlah adegan Ronggeng Amen,” ujar Rangga kepada wartawan baru-baru ini.
Pergeseran Waditra dan Fungsi
Perbedaan mencolok antara keduanya terletak pada komposisi alat musik. Ronggeng Gunung asli cenderung minimalis, hanya mengandalkan kendang, ketuk, dan kempul. Sebaliknya, Ronggeng Amen tampil dengan “persenjataan” musik yang lebih kolosal, menjadikannya sebuah pagelaran akbar yang mampu menyedot perhatian ribuan mata.
Secara fungsional, keduanya kini berbagi peran. Ronggeng Gunung tetap dipertahankan sebagai tarian penghormatan eksklusif bagi tamu-tamu kenegaraan atau protokoler pemerintahan. Sementara Ronggeng Amen menjadi primadona di berbagai festival kebudayaan dan hajat rakyat.
Meski telah mengalami modernisasi, Ronggeng Amen tetap mempertahankan napas gerak Jaipong dan Pencak Silat yang menjadi ciri khasnya. Penarinya—yang didominasi pria dengan atribut iket Sunda—bergerak dalam pola melingkar yang sinkron.
Filosofi Sareundeuk Sabobot Sapihanean
Di balik gemulai gerak dan rancaknya irama, terselip filosofi hidup masyarakat Sunda yang mendalam. Rangga menekankan tiga pilar utama dalam tarian ini: Wiraga (gerak), Wirama (irama), dan Wirasa (penjiwaan).
Gerakan memutar para penari yang dilakukan secara serempak bukan sekadar estetika panggung. “Dalam bahasa Sunda disebut sareundeuk sabobot sapihanean. Jika satu bergerak ke dalam, semua ke dalam. Jika keluar, semua keluar,” tutur Rangga.
Pola ini menjadi simbol gotong royong dan kebersamaan yang menjadi fondasi sosial masyarakat Pangandaran. Di tengah arus modernisasi pariwisata pesisir, Ronggeng Amen bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat tentang pentingnya harmoni dan persatuan dalam keberagaman.






Tinggalkan Balasan