Di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, bunyi dogdog dan denting angklung bukan sekadar musik. Ia adalah panggilan masa lalu. Di sana, seorang penari mengenakan topeng babi hutan, bergerak liar menirukan gestur satwa, sementara aroma kemenyan lamat-lamat menyatu dengan udara pedesaan. Inilah Badud, kesenian tua yang nyaris terkubur zaman, namun kini mencoba bersolek kembali.

Ritual di Pematang Sawah

​Lahir sekitar tahun 1880 di Dusun Margajaya, Badud mulanya bukanlah tontonan panggung yang gegap gempita. Merujuk catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, kesenian ini adalah “napas” bagi para petani. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual panen; sebuah iring-iringan suci saat butir-butir padi dibawa menuju lumbung desa (leuit).

​Tak hanya sebagai perayaan syukur, Badud memegang peran fungsional sebagai pengusir hama. Saat musim tanam tiba atau penebangan pohon dimulai, para praktisi Badud hadir membawa doa. Di balik keriuhan gerak, ada mantra yang dirapal. Di sela pertunjukan, sesajen tersaji rapi: mulai dari rujak bunga ros, telur, daging mentah, hingga rokok cerutu dan bangjo yang masing-masing berjumlah dua batang. Sebuah diplomasi spiritual agar alam tetap bersahabat dengan manusia.

Mistisisme dan Debus

​Keunikan Badud terletak pada teatrikal liarnya. Para pemain mengenakan topeng binatang—lutung, kera, anjing hutan, hingga harimau—yang dahulu dibuat dari bahan seadanya. Gerakannya spontan, tanpa pakem baku, semata-mata meniru gerak-gerik satwa di hutan.

​Dalam perjalanannya, Badud sempat bersalin rupa. Untuk menambah daya pikat, unsur debus dan silat diselipkan. Meski kolaborasi dengan debus tak bertahan lama, satu hal yang tetap lekat adalah unsur mistisnya: trans atau kesurupan. Saat pemain mulai kehilangan kesadaran diri dan “menjadi” binatang yang mereka perankan, di sanalah batas antara kenyataan dan mitos menjadi kabur.

​”Badud bukan sekadar tarian, ia adalah memori kolektif masyarakat Margacinta tentang harmoni dengan alam.”

 

Mati Suri dan Kebangkitan

​Memasuki medio 1990-an, Badud mulai kehilangan panggung. Modernitas dan jenis hiburan baru membuat kesenian ini tersisih hingga ke tepian. Selama hampir dua dekade, Badud seolah mati suri.

​Titik balik terjadi pada 2013, beriringan dengan pemekaran Kabupaten Pangandaran. Kesadaran untuk merawat identitas budaya memicu revitalisasi besar-besaran di Desa Margacinta. Badud lahir kembali dengan wajah yang lebih segar.

​Kini, pementasannya tak lagi sekadar ritual sawah. Badud telah bertransformasi menjadi seni pertunjukan teatrikal yang sering muncul di acara khitanan, pernikahan, hingga upacara turun mandi. Ada penambahan karakter seperti sepasang kakek dan nenek yang jenaka untuk memancing gelak tawa, serta kehadiran dua barongsai yang memperkaya visual panggung.

Modernisasi Tanpa Kehilangan Akar

​Secara teknis, Badud masa kini tampil lebih megah. Waditra atau instrumen musiknya kian lengkap dengan komposisi:

  • 8 unit Angklung
  • 6 unit Dogdog

​Kostum binatang pun tak lagi dibuat ala kadarnya. Detailnya kini digarap lebih artistik agar menyerupai binatang asli, tanpa meninggalkan kesan tradisionalnya. Meski gerakannya tetap bersifat spontan dan tidak memiliki pedoman baku, justru di situlah letak kekuatannya: sebuah kejujuran gerak yang lahir dari keriuhan hati para pemainnya.

​Di Margacinta, Badud kini bukan lagi sekadar sisa-sisa peradaban 1880. Ia adalah bukti bahwa tradisi bisa tetap berdiri tegak di tengah gempuran zaman, selama detak jantung masyarakatnya masih mau terus menabuh dogdog dan menjaga api mantra tetap menyala.