PANGANDARAN – Di balik riuh suara tempurung kelapa yang saling beradu, tersimpan sebuah siasat lama untuk mengelabui serdadu Nippon. Seni Benjang Batok, tarian tradisional asal Dusun Karangpaci, Kabupaten Pangandaran, bukan sekadar urusan estetika panggung. Ia adalah “senjata” para perempuan zaman pendudukan Jepang untuk menyelamatkan suami mereka dari jerat kerja paksa atau romusa.
Siasat ‘Ngabebenjo’ Penjajah
Secara etimologis, Benjang Batok merupakan sebuah kirata—istilah Sunda untuk dikira-kira tapi nyata—dari kalimat ngabebenjo anu nganjang. Artinya, memuliakan sekaligus mengalihkan perhatian tamu yang datang.
Dahulu, saat para serdadu Jepang datang ke pelosok Pangandaran untuk mencari tenaga kerja paksa, para istri di Desa Kertayasa tak hilang akal. Dipelopori oleh seorang perempuan bernama Ibu Eloh, mereka berkumpul dan menciptakan kegaduhan yang artistik. Dengan batok kelapa di tangan, mereka menari dan bernyanyi, menciptakan suasana riuh yang memikat.
”Kesenian itulah yang membuat penjajah akhirnya lupa dengan niatnya melakukan romusa, karena asyik menikmati hiburan,” ujar Mang Koko, pemilik Saung Angklung Mang Koko yang kini merawat kesenian tersebut. Saat para serdadu terhipnotis gerakan tari—bahkan hingga mabuk—para suami memanfaatkan celah itu untuk melarikan diri ke hutan, menjauh dari maut kerja paksa.
Merawat Sisa-Sisa Buhun
Kini, Benjang Batok tak lagi tampil sunyi hanya dengan ketukan tempurung. Di tangan Mang Koko, yang mulai serius melestarikan seni ini sejak 2019 di Desa Cibanten, Cijulang, Benjang Batok telah bersalin rupa menjadi pertunjukan yang lebih kolosal.
Jika dulu hanya mengandalkan suara nyaring batok yang dipukul, kini alunan musik bambu turut mengiringi. Angklung buncis, kendang, kecrek, jenglong, hingga lengkingan terompet membuat tarian yang dibawakan secara berkelompok oleh kaum hawa ini kian bertenaga.
Meski telah mengalami modifikasi alat musik, nilai “buhun” atau kunonya tetap dijaga. Bagi warga Karangpaci dan penggiat seni di Pangandaran, setiap denting batok kelapa adalah pengingat tentang cinta dan bela negara yang pernah diperjuangkan dari balik dapur dan halaman rumah.




Tinggalkan Balasan