PANGANDARAN – Di tengah gempuran kafe kekinian yang tumbuh subur di sepanjang garis Pantai Pangandaran, sebuah aroma gurih yang berkelindan dengan asap kayu bakar masih setia menyapa pagi. Aroma itu berasal dari Surabi Biyungku, sebuah nama yang bagi para pelancong kuliner dianggap sebagai “ritus” sarapan wajib di surga pesisir Jawa Barat ini.
Menolak Punah Sejak 1998
Surabi Biyungku bukan pemain baru dalam peta kuliner Pangandaran. Ia telah mengepul sejak 1998, bertahan melewati berbagai krisis ekonomi dan pasang surut industri pariwisata. Jika banyak kuliner tradisional bersalin rupa demi tuntutan zaman, Biyungku memilih jalan sunyi: mempertahankan cara lama.
Kekuatan utama kudapan ini terletak pada kesederhanaannya. Adonan yang hanya terdiri dari tepung beras dan santan kental dipanggang di atas tungku tanah liat. Api yang menjilat dasar tungku memberikan efek gosong yang tipis di bagian bawah surabi, menciptakan tekstur crispy yang beradu dengan kelembutan bagian tengahnya yang milky.
”Proses tradisional ini yang membuat rasanya tetap terjaga dan autentik,” begitu kesan yang kerap muncul dari para pelanggan setianya. Memang, ada aroma smoky khas kayu bakar yang tak mungkin dihasilkan oleh kompor gas modern.
Ritual Pagi di Tepi Pantai
Menyantap Surabi Biyungku bukan sekadar urusan mengisi perut. Bagi wisatawan, ini adalah bagian dari pengalaman ruang. Menikmatinya saat masih hangat, ditemani udara pantai yang lembap dan segelas kopi hitam, adalah cara terbaik memulai hari sebelum beradu dengan ombak atau sekadar berjalan kaki menyisir pasir.
Meski Pangandaran kerap diidentikkan dengan pesta pora hasil laut—mulai dari kepiting hingga deretan ikan bakar di pasar ikan—Surabi Biyungku berhasil memposisikan diri sebagai penyeimbang. Ia adalah sisi lembut Pangandaran, sebuah camilan purba yang memberikan rasa nyaman (comfort food) di tengah riuhnya destinasi wisata.
Bagi mereka yang berkunjung ke Pangandaran, melewati Surabi Biyungku tanpa singgah adalah sebuah kerugian kecil. Sebab, dalam setiap keping surabi yang keluar dari tungku Biyungku, ada rekaman sejarah rasa yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade.






Tinggalkan Balasan