PANGANDARAN – Meja itu tidak lagi rapi. Di atas lembaran plastik yang membentang, tumpukan kepiting, udang, cumi-cumi, hingga barisan kerang bambu berenang dalam genangan saus merah kental. Tak ada piring, tak ada tata krama formal. Di Mirasa Seafood, pelanggan diajak kembali ke cara makan paling purba: menggunakan tangan, berebut capit, dan “berperang” di atas meja.

Siasat Politikus di Dapur Laut

​Menu yang kini tengah digandrungi itu bernama Seafood Tumpah. Pemiliknya bukan orang sembarangan di Pangandaran. Ia adalah Dede Supratman, seorang pengusaha kuliner yang juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pangandaran. Di sela-sela kesibukan legislatif, Dede rupanya paham betul cara memanjakan lidah wisatawan.

​”Disebut Seafood Tumpah karena dalam penyajiannya memang kita tumpahkan di atas meja. Dihamparkan begitu saja agar sensasi makannya lebih leluasa dan seru,” ujar Dede saat ditemui pada Kamis, 22 Januari 2026.

​Eksperimen penyajian tanpa piring ini terbukti ampuh. Isian yang melimpah—melibatkan empat jenis kerang mulai dari kerang hijau hingga kerang tahu—menjadi daya tarik utama. Tak ketinggalan potongan jagung manis yang berfungsi sebagai penyeimbang rasa gurih-pedas bumbu rahasia dapur Mirasa.

Berburu Bahan Hingga Jawa Tengah

​Bagi Dede, kesegaran adalah harga mati yang tak bisa dinegosiasikan. Meski Pangandaran adalah lumbung hasil laut, ia tak segan berburu bahan baku hingga ke Pemalang, Jawa Tengah. Langkah ini diambil demi menjaga ketersediaan kerang dan kepiting dengan standar kualitas tertentu saat pasokan lokal menipis.

​Bagi pencinta adrenalin rasa, Mirasa menawarkan “ranjau” pedas yang bisa disesuaikan. “Kita ada level satu sampai sepuluh, tergantung permintaan pelanggan,” kata Dede. Level tertinggi biasanya menjadi tantangan bagi para pelancong asal Bandung dan Tasikmalaya yang haus akan rasa pedas yang membakar.

Geliat Ekonomi di Atas Meja Plastik

​Urusan harga, Mirasa tampak ingin merangkul semua kalangan. Paket untuk berdua dibanderol mulai Rp 55.000—harga yang cukup bersahabat untuk ukuran destinasi wisata populer. Sementara untuk rombongan besar, tersedia paket “keroyokan” seharga Rp 450.000 yang sanggup mengenyangkan hingga sepuluh orang.

​Strategi harga dan sensasi “barbar” ini membuahkan hasil manis. Jika dulu pelanggan hanya didominasi wisatawan luar kota saat musim libur, kini warga lokal Pangandaran pun mulai rutin mengantre. Pada hari kerja, rata-rata 30 porsi ludes terjual. Angka ini melonjak dua kali lipat saat akhir pekan tiba.

​Bagi mereka yang belum siap “berkotor-ria” dengan Seafood Tumpah, Mirasa tetap menyediakan menu klasik seperti Pindang Gunung—sup ikan asam segar yang menjadi identitas kuliner Pangandaran. Namun, tetap saja, tumpukan seafood di atas meja itulah yang menjadi primadona, mengubah santap siang biasa menjadi sebuah perayaan kecil di pinggir pantai.