Ada alasan mengapa Bill Dalton, seorang petualang legendaris, menyematkan nama “Green Canyon” pada awal 1990-an untuk menyebut Cukang Taneuh di Kecamatan Cijulang, Pangandaran. Saat perahu kayu mulai membelah aliran Sungai Cijulang yang berwarna hijau toska, dinding-dinding batu yang menjulang tinggi berselimut lumut hijau menyambut pelancong seperti pintu gerbang menuju dunia purba.

​Bagi masyarakat lokal, tempat ini adalah Cukang Taneuh—yang secara harfiah berarti jembatan tanah. Sebuah jembatan alam selebar tiga meter yang menghubungkan dua tebing tinggi, melintang angkuh di atas aliran sungai. Namun bagi para pencari adrenalin, ini adalah arena bermain yang sempurna.

Menantang Arus dengan Tubuh

​Berbeda dengan arung jeram yang menggunakan perahu karet, magnet utama Green Canyon adalah body rafting. Di sini, tubuh pelancong adalah “perahunya”. Dilengkapi dengan pelampung, pelindung kaki, dan helm, petualangan dimulai dengan menyusuri sungai sepanjang kurang lebih lima kilometer.

​Ritme petualangan diatur oleh alam. Ada kalanya wisatawan akan dibawa hanyut dengan tenang menikmati siluet stalaktit dan stalagmit yang meneteskan air di mulut gua. Namun, ketenangan itu sering kali segera pecah saat arus mulai menderas. Menembus jeram, melompat dari ketinggian tebing hingga lima meter, hingga berenang melawan arus kecil menjadi bagian dari drama yang ditawarkan oleh Green Canyon.

Orkestra Alam di Mulut Gua

​Memasuki area inti Green Canyon, suasana berubah magis. Sinar matahari yang menyelinap dari celah-celah rimbun pepohonan di atas tebing menciptakan efek Ray of Light yang memukau. Suara gemericik air yang jatuh dari dinding gua—sering disebut sebagai “hujan abadi”—menjadi musik latar yang menenangkan.

​Di titik ini, petualangan bukan lagi soal kecepatan, melainkan apresiasi terhadap formasi batuan yang terbentuk selama ribuan tahun. Stalaktit-stalaktit besar menggantung dengan anggun, beberapa di antaranya terus meneteskan air yang jernih, menciptakan kolam-kolam alami di sela bebatuan.

​”Di Green Canyon, adrenalin dan kedamaian bukan dua hal yang bertolak belakang; keduanya bersatu dalam satu aliran sungai.”

 

Persiapan Sebelum Terjun

​Sebagai destinasi wisata adventure, Green Canyon menuntut persiapan yang matang. Pengelola mewajibkan setiap rombongan didampingi oleh pemandu profesional yang paham betul titik-titik aman dan pusaran air.

​Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau, di mana air sungai tampil dengan warna hijau kristal yang paling menawan. Sebaliknya, saat musim penghujan, debit air yang tinggi dan warna sungai yang berubah kecokelatan sering kali membuat aktivitas body rafting ditutup demi alasan keamanan.

​Menuju ke lokasi ini pun kini kian mudah, sekitar 31 kilometer dari pusat kota Pangandaran. Namun, bagi mereka yang pernah mencicipi dinginnya air Cukang Taneuh, jarak tersebut hanyalah harga kecil untuk sebuah memori tentang bagaimana rasanya menjadi bagian dari orkestra alam Jawa Barat yang paling liar sekaligus paling indah.