Di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, waktu seolah melambat di bawah naungan tajuk-tajuk pohon purba yang rimbun. Pangandaran selama ini mungkin identik dengan garis pantai yang landai dan hiruk-pikuk wisatawan di atas pasir hitam. Namun, sekitar 15 kilometer ke arah barat dari pusat keramaian pantai, tersimpan sebuah rahasia geologis yang dijuluki masyarakat setempat sebagai Citumang, atau yang oleh para pelancong mancanegara kerap disebut sebagai Green Valley.

​Citumang bukan sekadar sungai. Ia adalah sebuah ekosistem yang presisi, di mana air sungai yang jernih dengan gradasi warna biru toska mengalir tenang di antara dinding-dinding batu cadas yang eksotis. Di sini, wisata bukan lagi soal melihat, melainkan merasakan langsung denyut nadi alam melalui pori-pori kulit.

​Mitos dan Aliran yang Tak Pernah Kering

​Nama “Citumang” sendiri menyimpan riwayat lisan yang unik. Berasal dari kata Cai (air) dan Tumang (sejenis tungku atau wadah kayu). Konon, aliran sungai ini berkaitan dengan legenda buaya buntung yang bernama Si Tumang. Namun, di luar balutan mitosnya, Citumang adalah keajaiban hidrologi. Airnya berasal dari goa alam yang menembus tanah, menciptakan aliran yang stabil bahkan saat kemarau panjang melanda Jawa Barat.

​Memasuki kawasan Citumang, pengunjung akan disambut oleh aroma tanah basah dan suara serangga hutan yang bersahut-sahutan. Udaranya sejuk, kontras dengan hawa payau Pantai Pangandaran yang menyengat. Di sini, dominasi warna hijau hutan dan biru air menjadi terapi visual yang instan bagi mereka yang datang dengan beban pikiran dari ibu kota.

​Body Rafting: Menyerahkan Diri pada Arus

​Menu utama di Citumang adalah body rafting. Berbeda dengan rafting konvensional yang menggunakan perahu karet, di sini tubuh manusialah yang menjadi perahunya. Dengan hanya bermodalkan life jacket (pelampung), helm, dan pemandu lokal yang piawai, wisatawan diajak untuk menghanyutkan diri mengikuti arus sungai sejauh kurang lebih 1,5 kilometer.

​Perjalanan dimulai dari sebuah goa yang menjadi hulu sungai. Airnya yang bening memungkinkan kita melihat hingga ke dasar sungai yang berpasir dan berbatu kecil. “Kuncinya hanya satu: rileks. Biarkan air yang membawa Anda,” ujar salah satu pemandu lokal saat menginstruksikan rombongan wisatawan pagi itu.

​Bagi pencari adrenalin, Citumang menyediakan “panggung” berupa tebing-tebing batu dan dahan pohon yang menjuntai di atas sungai. Ada titik lompat (jumping spot) dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 3 meter hingga 7 meter. Lonjakan jantung saat melayang di udara, disusul suara byuur yang memecah kesunyian, adalah puncak dari katarsis di Green Valley.

​Namun, Citumang juga punya sisi lembut. Di beberapa titik, arus melambat, membiarkan wisatawan saling berpegangan tangan membentuk formasi “ular” di atas air. Sambil menatap langit yang tertutup rimbunnya daun jati dan mahoni, sensasi hanyut ini memberikan ketenangan meditatif yang sulit ditemukan di destinasi wisata lain.

​Ekonomi Kerakyatan di Balik Jernih Air

​Keberhasilan Citumang menjadi destinasi unggulan tak lepas dari manajemen berbasis masyarakat di Desa Bojong. Paket-paket wisata yang ditawarkan, mulai dari Rp69.000 hingga Rp125.000 per orang, bukan sekadar angka komersial. Di dalamnya tercakup jaminan keselamatan melalui pemandu profesional, peralatan standar internasional, hingga sajian kuliner lokal.

​Menu nasi liwet yang disajikan di atas hamparan daun pisang setelah lelah berbasah-basahan adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman Citumang. Ikan asin, sambal terasi, lalapan segar, dan ayam goreng kampung menjadi pelengkap sempurna. Model pariwisata ini membuktikan bahwa pelestarian alam dan peningkatan ekonomi warga lokal bisa berjalan beriringan.

​Seorang pengelola wisata menyebutkan bahwa kunjungan paling ideal adalah pagi hari, sesaat setelah jam operasional dibuka pukul 07.00 WIB. “Pada jam tersebut, air masih sangat tenang, cahaya matahari yang menembus celah pepohonan menciptakan efek tyndall yang luar biasa indah untuk difoto, dan yang terpenting, suasana masih sangat sunyi,” katanya.

​Fasilitas dan Aksesibilitas

​Secara infrastruktur, Citumang telah berbenah. Area parkir yang luas, mushola yang bersih, serta deretan toilet dan tempat bilas tersedia cukup memadai. Akses menuju lokasi dari pusat Pangandaran pun relatif mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun sewaan, meski jalannya berkelok khas perbukitan Priangan Timur.

​Harga tiket masuk yang terjangkau—di kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000—menjadikan Citumang destinasi yang inklusif. Ia bisa dinikmati oleh keluarga besar yang ingin piknik santai, mahasiswa yang mencari petualangan murah meriah, hingga perusahaan yang mengadakan acara gathering.

​Tantangan Pelestarian

​Namun, popularitas Citumang membawa tantangan tersendiri: beban lingkungan. Dengan kapasitas pengunjung yang terus meningkat, isu sampah plastik dan kerusakan ekosistem sungai menjadi perhatian serius. Pengelola terus mengimbau wisatawan untuk tidak membawa botol plastik sekali pakai ke dalam sungai dan menjaga etika selama berada di kawasan hutan.

​Citumang adalah pengingat bahwa Pangandaran memiliki lapisan keindahan yang dalam. Jika pantai adalah wajahnya yang ramah dan terbuka, maka Citumang adalah jantungnya yang tenang dan penuh rahasia. Ia menanti siapa saja yang berani meninggalkan sejenak daratan untuk menceburkan diri ke dalam pelukan arus biru yang menyegarkan jiwa.

​Bagi Anda yang berencana mengunjungi Jawa Barat, melewatkan Citumang berarti melewatkan salah satu fragmen terbaik dari surga tropis di selatan Pulau Jawa. Siapkan fisik, pesan pemandu Anda, dan biarkan arus tenang Citumang menghapus penat yang tersisa.

Informasi Perjalanan:

  • Jarak: ±15 KM dari Pantai Pangandaran.
  • Waktu Tempuh: 30–40 menit berkendara.
  • Perlengkapan: Pakaian renang, alas kaki anti-slip, dan kamera tahan air.
  • Tips: Pesan paket body rafting sehari sebelumnya melalui agen atau koperasi pemandu lokal untuk mendapatkan pelayanan terbaik.