Deru mesin lokomotif yang membelah keheningan lembah di lintas Purwakarta hingga Banjar kini kian sering membawa kabar baik bagi industri pariwisata Jawa Barat. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan lonjakan signifikan pada layanan KA Pangandaran relasi Gambir-Banjar (pp) sepanjang awal tahun ini.
Data terbaru menunjukkan, selama Triwulan I 2026, KA Pangandaran telah mengangkut 97.306 pelanggan. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 21,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang hanya menyentuh 80.265 penumpang. Kenaikan dua digit ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sinyal pergeseran gaya berwisata masyarakat yang mulai menjauhi kemacetan jalur darat demi kenyamanan rel.
Layar Alam di Balik Jendela
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut bahwa daya tarik KA Pangandaran terletak pada pengalaman transisionalnya. Begitu meninggalkan hiruk-pikuk beton Jakarta, penumpang langsung disuguhi “bioskop alam” yang membentang di sepanjang jendela.
”Perjalanan menuju Banjar ini sangat eksotis. Ini adalah pembuka yang sempurna sebelum pelancong mengeksplorasi deretan pantai di Pangandaran,” kata Anne dalam keterangan resminya, Sabtu, 11 April 2026. Jalur ini memang dikenal memiliki kontur geografis yang menantang sekaligus memukau, mulai dari jembatan kereta yang tinggi, terowongan, hingga hamparan sawah berundak yang menjadi ciri khas Priangan Timur.
Efek Domino di Pesisir
Bagi Kabupaten Pangandaran, kereta api adalah urat nadi baru. Setibanya di Stasiun Banjar, para pelancong biasanya melanjutkan perjalanan singkat menuju destinasi ikonik seperti Pantai Batu Karas untuk berselancar, atau menjajal adrenalin lewat body rafting di jernihnya air Green Canyon.
Kehadiran massa wisatawan yang konsisten setiap pekannya mulai dirasakan dampaknya oleh warga lokal. Okupansi penginapan dan vila di sekitar Pantai Madasari dilaporkan stabil, sementara pelaku UMKM kuliner—terutama penjaja lobster bakar yang populer saat matahari terbenam—mendapatkan kepastian pasar.
Anne menekankan bahwa keuntungan utama menggunakan kereta api adalah efisiensi energi bagi para pelancong. “Tenaga tidak habis di jalan karena macet, sehingga agenda menikmati kuliner atau bertualang bisa lebih maksimal,” tambahnya.
Komitmen Konektivitas
Lonjakan penumpang ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi KAI untuk terus menjaga standar pelayanan. Dengan mengedepankan ketepatan waktu, KAI berambisi menjadikan kereta api sebagai tulang punggung pariwisata nasional yang berkelanjutan.
”KAI senang bisa menjadi bagian dari rencana liburan masyarakat. Kami terus berkolaborasi agar perjalanan kereta api tetap jadi pilihan utama yang memberikan manfaat nyata bagi kemajuan pariwisata Indonesia,” pungkas Anne.
Di tengah upaya pemerintah mendorong wisata domestik, KA Pangandaran nampaknya telah berhasil membuktikan bahwa perjalanan menuju destinasi seharusnya sama menyenangkannya dengan destinasi itu sendiri.






Tinggalkan Balasan