PANGANDARAN – Bagi mereka yang sering melintasi aspal panas jalur utama Banjar-Pangandaran, Desa Tunggilis bukan sekadar titik koordinat di peta. Di sana, aroma terasi bakar dan kencur yang menyeruak dari dapur Cobek Beti Lesehan seringkali menjadi alasan kuat bagi para pelancong untuk menginjak pedal rem dalam-dalam.
Ritus Timbel dan Amuk Sambal
Cobek Beti bukan sekadar tempat singgah untuk meredam keroncong perut. Di sini, masakan Sunda disajikan layaknya sebuah perayaan atas rempah. Menu andalannya, nasi timbel komplit, hadir dengan “protokol” tradisional yang ketat: nasi hangat yang dibungkus daun pisang, didampingi ikan asin yang renyah, tahu-tempe goreng, serta barisan lalapan segar yang masih berembun.
Namun, bintang utamanya tetaplah sambal terasi dan cobek ikan mujaer. Ikan-ikan segar itu seolah dimandikan dalam bumbu cobek yang berani—paduan kencur, jahe, dan cabai yang sanggup membuat dahi berkeringat namun lidah enggan berhenti. Tak hanya hasil laut, daftar menunya merentang hingga ke daratan, mulai dari ayam kampung, bebek, hingga burung puyuh yang diolah dengan bumbu meresap hingga ke tulang.
”Cita rasa autentik adalah kunci. Kami tidak main-main dengan urusan rempah,” ujar salah satu pengelola, menyiratkan rahasia di balik populernya rumah makan lesehan ini di kalangan wisatawan luar kota.
Menyepi di Antara Gazebo dan Sawah
Keunggulan Cobek Beti tak berhenti di ujung lidah. Arsitekturnya mengadopsi konsep lesehan yang intim, sebuah upaya membawa suasana rumah ke ruang publik. Deretan gazebo atau saung berdiri di bawah naungan pepohonan rindang, memberikan privasi bagi keluarga yang ingin bersantap sambil melepas lelah.
Bagi mereka yang jenuh dengan hiruk-pikuk kota, area luar ruang (outdoor) menawarkan lanskap sawah yang menghijau. Di sini, semilir angin Tunggilis menjadi bumbu tambahan yang gratis namun tak ternilai harganya. Makan di atas hamparan tikar dengan pemandangan terbuka menciptakan suasana “barbar” yang elegan—sebuah kemewahan sederhana bagi kaum urban.
Infrastruktur dan Keramahan Lokal
Sebagai destinasi favorit di jalur wisata, Cobek Beti cukup tanggap soal fasilitas. Area parkir yang luas mampu menampung rombongan besar, lengkap dengan musala dan toilet yang terjaga kebersihannya. Bahkan, bagi keluarga yang membawa “pasukan kecil”, tersedia menu khusus anak yang lebih bersahabat dengan lidah mereka.
Pelayanan yang hangat khas warga priangan timur melengkapi pengalaman di sini. Para staf yang sigap dan ramah membuat pengunjung tak hanya merasa sebagai konsumen, tapi tamu yang dihormati. Di Cobek Beti, perjalanan menuju pantai Pangandaran seolah dimulai lebih awal—lewat sepiring nasi timbel dan segelas teh tawar hangat di tepi sawah.






Tinggalkan Balasan